Ekbis

denpasar

JCI:Perang Tarif di Bali karena Terlalu Banyak Hotel

Jumat, 13 Maret 2015 | 00:00 WITA

bbn/net/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Terjadinya perang tarif hotel di Bali akibat menjamurnya hotel-hotel, home stay dan vila sehingga terjadi kelebihan jumlah kamar.

Pilihan Redaksi

Hal itu diutarakan Presiden Junior Chamber International (JCI) Indonesia, Ida Bagus Agung Gunarthawa di Denpasar, Rabu, 24 September 2014.
"Terjadi over supply. Berhubungan atau tidak dengan isu reklamasi Teluk Benoa, kita tidak faham, tapi masalahnya adalah over supply," kata Gunarthawa.
Pria yang akrab disapa Gus Gunarthawa itu menuturkan, jika hotel, vila dan home stay dengan berbagai pilihan menjamur, tamu domestik lebih memahami ke mana mereka harus mencari tempat tinggal di Bali meskipun belum terdaftar.
"Penyebab lain terjadinya perang tarif adalah kurangnya turis yang berlibur ke Bali. Kapasitas daya tampung Bali terhadap tourism dibanding Singapura, Malaysia, Thailand dan negara tetangga lainnya lebih besar," ungkapnya.
Menurutnya, jumlah kunjungan turis ke Bali dibanding ke negara tetangga tak berbanding lurus dengan kapasitas daya tampung. Sehingga mau tidak mau mereka banting harga akibat tidak ada pilihan lainnya. Tumbuhnya home stay, vila dan sejenisnya di desa-desa meski diapresiasi pemerintah, sehingga tumbuh enterprenuer baru.
"Pemerintah justru harus mengambil peran, agar bisnis yang mereka kembangkan bisa tumbuh dan bertahan. Bukan sebaliknya menyetop usaha mereka dengan alasan over supply tadi," tegas Gus Gunarthawa.
Ia memberi solusi bahwa perlu ditingkatkan edukasi pada sisi enterpreneurship warga yang membangun bisnis di bidang sarana akomodasi pariwisata. Selain itu, identitas lokal Bali juga mesti tumbuh, seiring dengan berkembangnya deglobalisasi.
"Sehingga bisa meng-upgrade properti bisnis yang dimilikinya. Kalau sudah begitu, tidak banting harga. Promosi juga penting untuk digenjot. Produknya dikuatkan, promosi juga mesti mewakili produk. Sekarang, deglobalisasi ini kita harus menguatkan sisi originalitas produk yang ditawarkan. Bali itu culture dan spiritual tourism. Inilah quality tourism," tandasnya.[bbn/dws]

Penulis : dws

Editor :


TAGS :



News Lainnya :


Berita Lainnya

Trending News

Berita Bali TV