Hukrim

Menguak Tabir Kematian Polisi Aipda Wayan Sudarsa di Kuta

Rabu, 24 Agustus 2016 | 06:25 WITA

bbn/file

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Tabir kematian Aipda I Wayan Sudarsa diungkap Kapolresta Denpasar Kombes Pol Hadi Purnomo, pada Selasa (23/8). Kematian polisi Lantas Polsek Kuta itu diawali dari hilangnya tas milik Sara Connor dan kemudian terjadi pergumulan antara korban dan David James Taylor dan berakhir dengan kematian korban. Polisi bertubuh tambun itu tewas setelah kepalanya dikeprok dengan botol bir.

Pilihan Redaksi

 
Kombes Hadi mengatakan, pengungkapan kasus kematian Aipda Sudarsa berdasarkan alat bukti yang cukup, hasil olah TKP di lapangan dan bukti darah serta alat bukti lainnya. 
 
“Untuk darah yang ditemukan di TKP dan Homestay, setelah dicocokkan identik dengan darah tersangka, baik David maupun Sara. Sehingga dari gelar perkara kami memutuskan pasangan kekasih ini sebagai tersangka,” tegasnya.
 
Kedua pasangan kekasih asal Inggris dan Australia ini mengaku keterangan yang mereka sampaikan pada awal penangkapan palsu. “Setelah mereka diperiksa, Senin (22/8) lalu, David dan Sara berbohong. Keduanya menyesal,” bebernya.
 
Kronologis kejadian ini berawal saat keduanya berada di Pantai Kuta, depan Hotel Pullman, Kuta, pada Selasa (16/8) malam sekitar pukul 21.00 Wita. Keduanya minum 2 botol bir dan duduk duduk sambil berpacaran. Keduanya berpindah tempat dan tas milik Sara dan botol bir ditaruh dibelakang. Namun Sara kaget tas miliknya hilang. Dia pun panik karena di dalam tas tersebut ada ATM, SIM dan uang.
 
“Dia menanyakan kepada orang orang di sana dimana tasnya,” ujar Kombes Hadi. 
 
Kebetulan, Aipda Wayan Sudarsa berada di lokasi, tangga pintu masuk ke pantai tersebut. Sara pun minta tolong agar Aipda Sudarsa mencarikan tasnya. 
 
”Melihat ada polisi, Sara bertanya tentang tasnya dan dijawab anggota tidak ada, ujar Kombes Hadi. 
 
Namun Sara sepertinya tidak terima jawaban Aipda Sudarsa. Dia bersikap seolah olah Polisi tahu dimana keberadaan tasnya.
 
Tak lama, datanglah David James Taylor dan menemui pacarnya Sara. Entah bagaimana, David tiba tiba menuduh Aipda Sudarsa Polisi gadungan. Bahkan, David menggeledah badan Aipda Sudarsa untuk mencari tas pacarnya tersebut. 
 
"Tersangka David mengatakan anggota polisi gadungan. Padahal, anggota sudah mengenakan pakaian uniform lengkap dikira gadungan, tapi malah ditudung polisi gadungan. Namanya polisi digeledah masyarakat gimana sih?,” beber Kombes Hadi.
 
Tidak terima dituduh Polisi gadungan, korban mendorong tersangka David hingga terjatuh. Keduanya bergumul di pasir. Saat tersangka David ditindih oleh korban, Sara membantu dengan cara menarik korban hingga terjatuh. Gantian David yang menindih korban. Nah, ketika membantu itulah korban menggigit tangan dan paha kiri Sara.
 
Sementara setelah menindih korban, David memukul kepala Aipda Sudarsa yang akrab dipanggil pak Kumis itu. Dengan menggunakan HP Samsung milik korban. Sembari memukul, David berteriak bahwa korban adalah polisi gadungan. “Mana dompet saya, mana dompet saya? Fuck you, mana dompet saya? Namun korban mengatakan tidak tahu.
 
Agar tidak dipukuli oleh David, korban akhirnya menyebut keberadaan tas tersebut. “Ya ya itu di sana. Mendengar pengakuan itu, David pun melepas. Namun setelah dilepas kembali terjadi pergulatan. Botol di lokasi kejadian pun dipakai David untuk memukul kepala korban. Terangnya sebelum memukul David sempat memindahkan botol bir dari tangan kiri ke tangan kanan. 
 
“Botol bir pecah dan tersangka David menyerang membabi-buta,” ujarnya.
 
Setelah itu dia periksa semuanya, barang-barangnya hingga bajunya lepas. Saat itu Sara ikut membantu memeriksa. Rupanya tak ditemukan barang bukti. Singkat cerita, korban disangka pingsan dalam kondisi tertelungkup. Belum puas karena tas Sara tak ditemukan, David kembali mencari tas sang kekasih.
 
Kombes Hadi mengakui bahwa tersangka David sempat kembali menemui korban, untuk memastikan tasnya ada pada korban. Bahkan, David sempat membalikkan tubuh korban, tapi belum sadar. Yakin tasnya hilangnya, kedua pasangan kekasih itu keluar dari pantai. Keduanya bertemu seorang tukang ojek dan minta diantarkan ke Homestay tempat mereka menginap. Namun saksi tukang ojek tidak mau karena melihat keduanya berdarah-darah.
 
“Tukang ojek nggak mau karena melihat dia berdarah-darah dan kotor. Keduanya pun kembali ke homestay Kubu Kauh,” jelasnya. 
 
Di Homestay tersebut, keduanya mencuci barang bukti, mandi dan istrahat. Sekitar pukul 12.00 Wita mereka keluar dari homestay mencari penginapan yang baru di daerah Jimbaran. Namun karena ada yang ketinggalan, David sempat balik ke homestay semula. Setelah dari homestay dia membakar barang bukti berupa kaos, baju berlumuran darah.
 
Termasuk handphone Samsung dan dompet korban ditemukan pada tersangka. Kartu (SIM) digunting-gunting sama dia (tersangka). Hp dibuang dan dompet berisi identitas korban dibuang. Semuanya dipotong-potong dan disobek, lalu dibakar David dan Sara. “Keduanya dikenakan Pasal 338 KUHP, 170 KUHP, 551 KUHP dan Pasal 55, 56 turut serta membantu,” tegasnya.[bbn/spy/psk] 

Penulis : Surya Kelana

Editor :


TAGS : Polisi Mati Kuta



News Lainnya :


Berita Lainnya

Trending News

Berita Bali TV