News

Mantan Tentara Jepang Hadiri Peringatan Perang Puputan Margarana

Minggu, 20 November 2016 | 17:05 WITA

bbn/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, TABANAN.
BeritaBalicom, Tabanan. Mantan tentara Jepang, Inagawa San, menghadiri peringatan perang Puputan Margarana yang berlangsung Taman Pujaan Bangsa Margarana, Kecamatan Marga, Tabanan, Minggu  2O November 2016.

Pilihan Redaksi

 
Menurutnya kedatangan ke Bali untuk mendoakan sahabatnya Wayan Sukra salah satu pasukan Ciung Wanara pimpinan I Gusti Ngurah Rai yang gugur saat perang puputan melawan penjajah belanda. 
 
“Saya datang untuk mendoakan arwah teman saya Wayan Sukra yang gugur dalam perang puputan margarana,” jelasnya. 
 
Inagawa San merupakan salah satu tentara Jepang. Ia datang ke Bali pada tahun 1944 kemudian bersahabat dengan I Wayan Sukra salah satu pasukan Ciung Wanara.
 
Pertempuran Margarana dipicu pada tanggal 2 dan 3 Maret 1946, ketika itu lebih kurang 2.000 orang tentara Belanda mendarat di Pulau Bali. Mereka diikuti oleh tokoh-tokoh Bali yang pro terhadap Belanda. Ketika Belanda mendarat di Pulau Bali, pimpinan Laskar Bali Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, sedang menghadap ke Markas Tertinggi TKR di Yogyakarta. Kepergiannya ke Yogyakarta bertujuan membicarakan masalah pembinaan Resimen Sunda Kecil dan cara-cara untuk menghadapi Belanda.
 
Ketika kembali dari Yogyakarta, I Gusti Ngurah Rai menemukan pasukannya dalam keadaan porak-poranda akibat serangan yang dilakukan oleh pasukan Belanda. I Gusti Ngurah Rai berusaha untuk mengumpulkan kembali pasukannya yang telah porak-poranda. 
 
Sementara itu, Belanda terus membujuk Ngurah Rai agar mau bekerja sama dengan pihak Belanda. Namun ajakan itu ditolaknya, penolakan itu terlihat dari isi surat balasannya kepada Belanda. Di antaranya Ngurah Rai menyatakan bahwa: "Bali bukan tempat untuk perundingan dan perundingan merupakan hak dari pemimpin kami di pusat".
 
Di samping itu, Ngurah Rai, juga menyatakan bahwa: "Pulau Bali bergolak karena kedatangan  pasukan Belanda. Dengan demikian, apabila ingin Pulau Bali dan damai, Belanda harus angkat kaki dari Pulau Bali".
 
Ketika Ngurah Rai berhasil menghimpun dan mempersatukan kembali pasukannya, pada tanggal l 8 November 1946 Ngurah Rai bersama pasukannya menyerang markas Belanda yang ada di kota Tabanan. Markas Belanda digempur habis-habisan. 
 
Dalam pertempuran itu, pasukan Ngurah Rai meraih kemenangan yang gemilang dan satu Detasemen Polisi Belanda lengkap dengan senjatanya menyerah. Setelah itu pasukan Ngurah Rai mundur ke arau utara kota Tabanan dan memusatkan perjuangan di Desa Margarana.
 
Akibat kekalahan tersebut pihak Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya termasuk pesawat tempur untuk menyerang daerah Margarana pada tanggal 20 November 1946. Terjadilah pertempuran yang dahsyat, dalam pertempuran tersebut Ngurah Rai menyerukan perang puputan (perang habis-habisan). 
 
Dalam perang tersebut, I Gusti Ngurah Rai dan pasukan gugur di medan perang. Pertempuan itu sekarang lebih dikenal dengan perang puputan Margarana  yang diperingati setiap  tanggal 20 November.  Tanggal 20  November diperingati sebagai hari Pahlawan Margarana oleh rakyat Bali. [nod/psk] 

Penulis : bbcom/nod

Editor :


TAGS : Tabanan



News Lainnya :


Berita Lainnya

Trending News

Berita Bali TV