News

PHDI Bali: Banyak Catatan Sejarah, Jangan Sembarangan Renovasi Pura Kuno

Selasa, 18 September 2018 | 08:59 WITA

beritabali.com/iwan prananjaya

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Propinsi Bali meminta kepada masyarakat agar tidak sembarangan dalam memugar sebuah bangunan pura terutama pura kuno. Pemugaran atau renovasi sebuah pura kuno yang masuk kategori cagar budaya, harus berkoordinasi dengan beberapa instansi terkait.

Pilihan Redaksi

  • Sejarah Kelam G30S 1965 di Bali (9): Pembantaian PKI Paling Parah Terjadi di Jembrana
  • Masesuluh ring Babad lan Kesucian Tanah Wanoa Wangsul
  • Akses Jalan ke Pura Tunggul Besi Putus, Pemedek Minta Segera Dibenahi
  •  
    Hal ini disampaikan I Nyoman Iwan Prananjaya, pengurus Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal, Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, menanggapi banyaknya pura kuno yang dipugar tanpa adanya konsultasi sebelumnya dengan instansi terkait.
     
     
    Menurut Iwan, sebelum melakukan renovasi atau memugar sebuah pura yang tergolong kuno atau tua, harus berkordinasi dengan empat instansi terkait yakni Balai Arkeologi (Balar), Dinas kebudayaan,  Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), dan  Balai Pelestarian Nilai dan Budaya (BPNB).
     
    "Sebelum dibongkar atau direnovasi, harus terlebih dulu cek di Balar, BPCB, BPNB, dan Disbud. Jika sudah dinyatakan bukan cagar budaya yang harus dilindungi, baru upaya pemugaran bisa dilanjutkan, namun jika dinyatakan sebagai cagar budaya yang harus dilindungi, maka tidak boleh dibongkar, cukup direstorasi dikembalikan seperti aslinya, dan pihak BPCB sudah siap bantu secara teknis,"ujarnya di Denpasar, Senin (17/9/2018). 
     
     
    Iwan menyayangkan saat ini masih marak pemugaran bangunan pura kuno yang tidak melalui konsultasi dengan empat instansi terkait tersebut. Akibatnya, banyak catatan sejarah yang ada di bangunan pura kuno tersebut hilang dan berganti dengan batu hitam yang banyak digunakan saat ini dalam pembangunan sebuah bangunan pura baru.
     
    Iwan memberikan temuannya baru-baru ini di wilayah Kabupaten Karangasem. Karena ketidaktahuan warga, ada pura yang tergolong kuno dibongkar dan diganti dengan batu hitam. Mirisnya, bekas-bekas pelinggih kuno dan arca bekas candi kuno di Pura Taman Tangkup hendak dijadikan pondasi sebuah bangunan pura baru. Beruntung hal ini berhasil dicegahnya.
     
    "Salah satu temuan kami ada di wilayah Desa Tangkup, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karanagsem. Di salah satu banjar yakni Banjar Tangkup Anyar, kami lihat ada 4 pura yang cukup tua atau kuno. Namun sayang, salah satu pura yakni Pura Pesimpangan sudah ada bagian pelinggihnya yang dibongkar dan diganti dengan batu hitam, namun  syukur masih dipertahankan candi bentarnya. Sementara pura taman, pura puseh dan dalem, sudah direstorasi dan dipertahankan keasliannya," jelas Iwan. 
     
     
    Renovasi pura kuno dan menggantinya dengan batu hitam sangat disayangkan, karena jika dilihat polanya, pura kuno ini dibangun di era Raja Ida Dalem Ketut Ngulesir di Bali. Dalam catatan sejarah resmi,  Ida Dalem Ketut Ngulesir menjadi penguasa Bali tahun 1380-1460.
     
     
    "Jika banguna

    Pilihan Redaksi

  • Pengempon Pura Batukaru Tidak Menuntut, Proses Hukum Jarvi Diserahkan Pihak Terkait
  • Gula Aren Jempanang, Komoditi yang Belum Dipandang
  • Petitenget Festival Diharapkan Beri Sumbangan Kemajuan Kebudayaan Bali
  • n pura kuno dibongkar dan diganti dengan batu hitam, maka yang akan hilang adalah catatan sejarah pembangunan pura tersebut, catatan tradisi, sejarah pesan-pesan masa lampau, semua pesan-pesan tersebut ada pada relief atau ukiran yang ditinggalkan pada bangunan pura-pura kuno tersebut,"jelas Iwan yang selama ini aktif mengunjungi berbagai pura kuno di Bali maupun di luar Bali. 
     
    Iwan menambahkan, pembongkaran pura kuno dan menggantikannya dengan bangunan baru berbahan batu hitam, lebih karena faktor atau alasan ketidaktahuan masyarakat tentang bangunan cagar budaya yang harus dilundungi. Rencananya ia dan tim akan melakukan ekspedisi ke beberapa wilayah pelosok di Bali untuk memberi penyuluhan tentang arti penting menjaga kelestarian pura kuno bersinergi dengan pemerintah. 
     
    "Dengan adanya pemahaman  tentang pelestarian cagar budaya, nantinya desa-desa setempat akan lebih memahami sejarah pura masing-masing dan bisa menjaga keaslian pura-pura kuno yang ada,"ujarnya. [bbn/psk]

    Penulis : Putra Setiawan

    Editor : Putra Setiawan


    TAGS : Pura Kuno Phdi Bali



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV