News

Memanfaatkan Limbah Jelantah Hotel Sebagai Bahan Bakar Lampu Sentir

Senin, 19 November 2018 | 06:00 WITA

The Sankara Resort and SPA

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, GIANYAR.
Beritabali.com, Gianyar. Berawal dari keinginan untuk meningkatkan kreativitas para staf, akhirnya manajemen The Sankara Resort and SPA, Ubud-Gianyar berhasil memanfaatkan limbah minyak bekas atau jelantah sebagai bahan bakar lampu sentir. Akomodasi wisata yang berlokasi di Jl. Cempaka, Banjar Kumbuh, Desa Mas, Ubud ini mendapatkan cara untuk memanfaatkan kembali limbah jalantah yang dihasilkan. Upaya pemanfaatan limbah jelantah yang mereka sebut sebagai langkah kecil ini menjadi salah satu cara turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup dan mengurangi pencemaran dari industri pariwisata.

Pilihan Redaksi

  • Parta Sebut Kontes Sapi Bali Sebagai Upaya Mencari Bibit Unggul.
  • “Mungkin tidak terlalu signifikan, karena jumlah limbahnya juga kecil, kita lebih cenderung ke kreativitas serta inisiatif go to green-nya. Tentu segala sesuatu akan berguna jika kita bisa memanfaatkan dengan tepat” papar General Manager The Sankara-Ubud, I Wayan Parka, ketika di konfirmasi di Gianyar pada Minggu (18/11).
    Pemanfaatan limbah jelantah sebagai bahan bakar lampu sentir memang diakui mampu mengurangi pemakaian listrik, terutama mengurangi penggunaan listrik untuk lampu-lampu hias pad ataman di kawasan resort. Namun menurut Parka, harus diakui pengurangan listrik yang terjadi belum terlalu signifikan. “Masih sangat kecil, per-hari kita menggunakan sekitar satu setengah liter minyak goring dan menghasilkan jelantah sekitar 500 ml” kata Parka.
    Pesatnya pertumbuhan pariwisata di Bali, khususnya di daerah Ubud tentu akan menghasilkan limbah sebagai bahan buangan dari setiap layanan yang ada. Menjadi sebuah tantangan untuk mampu mengurangi bahkan memanfatkan bahan buangan yang dihasilkan untuk mampu mewujudkan pembangunan pariwisata Bali yang berkelanjutan. “Dalam hal ini tim Sankara Resort Managed by Pramana Experience berupaya untuk melakukan berbagai langkah, agar semua limbah yang ada tetap bisa bermanfaat baik bagi lingkungan maupun alam sekitarnya” jelas pria yang suka berpenampilan plontos tersebut.
    Khusus untuk limbah yang berupa sisa makanan, terutama sayur-mayur, roti bekas sarapan pagi diberikan secara cuma-Cuma kepada masyarakat sekitar maupun karyawan yang mempunyai peliharaan babi, sapi, itik dan ternak lainnya. Limbah tersebut akan diolah menjadi pakan ternak sehingga mengurangi pengeluaran biaya operasional, maupun menghemat waktu pengadaan.
    Pemanfaatan minyak jelantah sebagai lampu sentir mendapat respon positif dari beberapa wisatawan, salah satunya dari seorang wisatawan asal Belgia Martin Severin. Menurut Martin, pemanfaatan jelantah sebagai penerangan di sisi kolam dan di meja lobi menunjukkan kepedulian akan kelestarian lingkungan.
    Martin menuturkan jika di negaranya minyak jelantah sudah diolah menjadi biodiesel atau pengganti bensin untuk traktor. Dimana masyarakat akan mendapatkan kompensasi berupa uang dari pengumpul minyak jelantah. “tetapi beberapa orang juga memberikan minyak jelantahnya secara gratis” ungkap perempuan berumur 65 tahun asal Belgia tersebut.
    Upaya yang dilakukan manajemen Sankara Resort mendapat apresiasi dari Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali Catur Yudha Hariani. Menurutnya, walaupun langkah kecil dalam pemanfaatan limbah jelantah tapi paling tidak juga harus diikuti oleh hotel-hotel lainnya di Bali yang menghasilkan minyak jelantah lebih banyak. “Seperti ini harus di contoh, itu kan teknologi orang tua kita jaman dulu, direplikasi di hotel lain. Kalau hotel sudah melakukan cukup lama diberikan penghargaan hotel hijau atau green hotel” tegas Catur.
    Catur menyampaikan pemanfaatan jelantah paling tidak akan mengurangi pembuangan dan pencemaran terhadap air dan tanah. Pada akhirnya kualitas air dan tanah tetap terjaga, serta ekosistem tetap lestari. Pemanfaatan jelantah pada dasarnya merupakan bentuk dari gerakan 2R yaitu reduce dan reuse, klau kemudian bisa diolah kembali menjadi sabun akan lengkap menjadi 3R yaitu recycle.
    Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani berharap upaya pengolahan limbah jelantah yang dilakukan bisa berkelanjutan dan bisa dicontoh oleh yang lain. “Harapan kita semua kegiatan yang menghasilkan limbah seharusnya bisa juga diolah menjadi hal yang berguna, artinya harapannya yang ramah terhadap lingkungan” papar Aryani.
    Menurut Aryani, upaya yang dilakukan pihak Sankara sudah sepatutnya mendapatkan penghargaan. Pemberian penghargaan menjadi penting agar masyarakat yang mempunyai kegiatan usaha yang lain bisa ikut mengolah limbah  menjadi hal yang lebih berguna. “Reward nanti ditahun 2019 kita akan usulkan  mendapatkan piagam penghargaan Sad Kertih dan kita Dinas Lingkungan Hidup akan mengkomunikasikan kepada gubernur Bali, reward apa

    Pilihan Redaksi

  • Koster Rencanakan Pelaksanaan Kontes Sapi Bali
  • yang selain itu bisa diberikan kepada Sankara ini” kata Aryani.
    Aryani menambahkan bahwa pemerintah daerah Bali pada dasarnya sudah memberlakukan proper atau program pemeringkatan terhadap perusahaan-perusahaan dalam melakukan pengelolaan lingkungan, termasuk melakukan pengolahan limbah. Dimana hingga saat ini tercatat 30 perusahaan yang telah mengikuti program proper, salah satunya perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan. [bbn/muliarta]

    Penulis : I Nengah Muliarta

    Editor : I Nengah Muliarta


    TAGS : Minyak Jelantah Lampu Sentir



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV