News

Vape, Pengurangan Risiko Tembakau, dan Solusi Masalah Rokok di Bali

Rabu, 15 Mei 2019 | 08:00 WITA

beritabali.com/ilustrasi

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Banyak cara dilakukan perokok agar bisa berhenti merokok. Salah satu yang sering disebut adalah dengan mengganti rokok konvensional baik filter atau kretek, dengan rokok elektrik atau yang sering disebut vape. Tapi benarkah vape ampuh untuk menghentikan kebiasaan dan kencanduan merokok?

Pilihan Redaksi

 
Hal ini mengemuka pada Diskusi Media "Pengurangan Risiko Tembakau sebagai Solusi Masalah Rokok di Bali" yang digelar di Denpasar, Selasa (14/5/2019).
 
Ketua Asosiasi Vaporizer Bali, I Gde Agus Mahartika, mengatakan, sebelum menggunakan rokok elektrik (vape) saat ini, sebelumnya ia adalah perokok kelas berat. Namun setelah menggunakan vape, ia bisa berhenti merokok. 
 
"Setelah pakai vape saya bisa berhenti merokok. Ketika masih merokok, saat bangun pagi biasanya tenggorokan sakit dan banyak dahak, kini setelah pakai vape sudah tidak lagi," ujarnya.
 
Meski sudah merubah kebiasaan dari merokok ke vape, tapi Gde Agus mengaku tidak terlalu tergantung atau kecanduan vape. 
 
"Jika tidak bisa hisap vape saya tidak masalah, beda dengan rokok yang rasa ketergantungannya tinggi. Dulu saya pernah malam-malam pergi ke Kuta hanya untuk beli rokok yang saat itu memang hanya dijual di kawasan Kuta,"kenangnya.
 
Awalnya Gde Agus mengaku tidak percaya vape akan bisa menghentikan kebiasaannya merokok, tapi kini ia sudah membuktikannya sendiri dan bisa berhenti merokok setelah beralih ke vape.
 
"Di luar negeri, vape malah sudah boleh digunakan di rumah sakit, seperti di Prancis dan Inggris. Penggunaan vape bisa mengurangi 95 persen racun jika menghisap rokok,"ujarnya.
 
Pakar Kesehatan Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar, drg. Ida Bagus Nyoman Dhedy Widyabawa, S.Perio, menjelaskan, rokok tembakau yang dibakar ternyata mengandung 4.600 jenis zat beracun Karsinogenik.
 
"Rokok mengandung tar dan nikotin, nikotin mengandung zat candu yang menyebabkan ketergantungan, kemudian juga ada tar yang merupakan hasil sisa pembakaran, juga terdapat kertas dimana ada bahan pemutih di sana yang bebahaya jika masuk ke dalam tubuh. Bagian filternya juga dari kapas yang juga kita tidak tahu murni atau dari apa bahannya,"paparnya. 
 
Ia menambahkan, 4.600 zat beracun Karsinogenik dalam rokok ini yang  kemudian masuk ke dalam tubuh manusia dan ikatannya sangat kuat. Rokok membuat kondisi tubuh penggunakan bertambah parah, misalnya jika perokok punya penyakit jantung maka akan bisa berpengaruh ke diabetes atau ginjal. 
 
"Pabrik rokok menutupi hal-hal tersebut, banyak sekali zat berbahaya di dalamnya. Rokok filter ternyata lebih parah dari rokok kretek. Dulu saya perokok aktif, setelah beli vape (rokok elektrik) dan memakainya selama 3 hari, saya berhenti merokok karena rokok rasanya jadi aneh dan tidak enak," ujarnya.
 
Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) dan Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), Dr. drg. Amaliya, MSc., PhD, upaya mengurangi jumlah perokok saat ini telah menggunakan konsep pengurangan resiko bagi perokok. 
 
"Semakin diingatkan, jumlah perokok semakin bertambah, jadi saat ini yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah perokok adalah dengan konsep pengurangan resiko. Konsep ini mengurangi resiko tembakau untuk mengatasi masalah perokok di Bali," ujarnya.
 
"Upaya mengurangi jumlah perokok sudah dilakukan, seperti program KTR (kawasan tanpa rokok), larangan menjual rokok kepada anak dan remaja di bawah 18 tahun, iklan rokok yang dibuat tidak menarik, namun hasilnya jumlah perokok tidak berkurang, jumlah perokok malah merambah usia muda dibawah 18 tahun sudah kecanduan rokok,"ujarnya.
 
Menurut Amaliya, konsep pengurangan bahaya rokok dipilih karena jika merokok dilarang maka para perokok  akan semakin menjadi jadi. Melarang orang merokok terbukti tidak efektif, regulasi juga tidak berhasil, maka konsep pengurangan resiko ini kita pilih dengan meawarkan produk dengan bahaya atau resiko yang sudah menurun sampai 95 persen. 
 
"Ada perubahan signifikan terhadap efek dari produk tersebut, dalam konsep pengurangan resiko ini, ada produk yang secara bertahap dapat mengurangi asupan nikotin dan 4.000 zat beracun dalam rokok. Di Inggris, perokok sudah ditawari produk ini, hasilnya signifikan, kadar racun (akibat rokok) turun jauh di tubuh. Di Selandia Baru, Yunani, Italia, signifikan menunjukkan manfaat. Konsepnya ini produk yang membuat para perokok tetap nyaman, tapi bahayanya menurun 95 persen. Soal tembakau alternatif yang ditawarkan ini, pemerintah sebaiknya merugulasi bukan dilarang, bukan berhenti tapi berkurang bahayanya,"paparnya.
 
Sementara dari sisi regulasi, pakar hukum Komang Eki Saputra, mengatakan, 62 negara di dunia saat ini sudah menerapkan aturan soal produk tembakau alternatif. Tapi Indonesia hingga kini belum menerapkan aturan soal tembakau alternatif. 
 
"Belum ada regulasi khusus soal tembakau alternatif di Indonesia, regulasi yang mengatur para perokok diakomodir ke produk tembakau yang lebih rendah resiko. Perlu dibuat aturan lengkap soal tembakau alternatif sehigga masalah rokok bisa berkurang,"ujarnya. [bbn/psk]

Penulis : putu setiawan kondra

Editor :


TAGS : Vape Vaporizer Bali Rokok



News Lainnya :


Berita Lainnya

Trending News

Berita Bali TV