News

Mengangkat Derajat Arak Bali (6): Sempat Terdampak Kasus "Arak Metanol"

Selasa, 21 Mei 2019 | 10:25 WITA

beritabali.com/ilustrasi/file

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Setelah sukses dengan bisnis brem Bali hingga tembus pasar Eropa, keluarga pemilik pabrik arak dan juga brem Dewi Sri, Ida Bagus Rai Budarsa, kemudian mulai merambah produksi arak Bali di tahun 1990 an. Bisnis arak yang dijalani hingga kini sempat mengalami pasang surut.

Pilihan Redaksi

  • Mengangkat Derajat Arak Bali (5): Brem Bali Sudah Pernah Diekspor ke Jerman
  • Mengangkat Derajat Arak Bali (4): Harus Konsisten Jaga Kualitas
  • Mengangkat Derajat Arak Bali (3): Pembuat Arak Rumahan Sebaiknya Jadi Pemasok Pabrikan
  • Mengangkat Derajat Arak Bali (2): Kedepan Bisa Dibuat Blended Arak atau Arak Gold
  • Mengangkat Derajat Arak Bali (1): Peluang Arak untuk Menjadi Spirit Ketujuh
  •  

    Pilihan Redaksi

  • Arak Bali Susah Go Internasional (5): Perusda Bali Nego Legalisasi Arak Bali
  • Arak Bali Susah Go Internasional (4): Produksi dan Peredaran Terkendala Regulasi
  • Arak Bali Susah Go Internasional (3): Pembuat Arak Harus Duduk Bersama
  • Arak Bali Susah Go Internasional (2): Arak Karangasem dan Singaraja Terkenal Enak
  • Arak Bali Susah Go Internasional (1): Bahan Dasar Tidak Konsisten
  • div>
    "Tahun 90 an saya tamat kuliah, saya kemudian melanjutkan usaha brem Bali ini, dan kemudian ditambahkan dengan produksi arak dari bahan beras,"ujar Ida Bagus Rai Budarsa kepada Beritabali.com belum lama ini. 
     
    Menurut Gus Rai, arak beras dengan merek Dewi Sri ini mulai diproduksi sekitar tahun 1992 hingga 1993. Awalnya bisnis arak Bali Dewi Sri ini berjalan lancar namun pangsa pasarnya masih terbatas. 
     
    "Waktu itu kita jual arak beras tapi pasarnya sedikit, karena waktu itu banyak sekali arak yang beredar, bar-bar masih suka beli arak dengan harga yang murah, sementara arak kita harganya lebih tinggi karena kita bayar pajak dan cukai," kenangnya.
     
    Bisnis arak di Bali, kata Gus Rai, sempat terpuruk di tahun 2000 an, karena kasus "arak metanol" yang menyebabkan korban jiwa waktu itu.  
     
    "Waktu itu di tahun 2000 an itu, semua orang takut untuk menyajikan arak, karena juga ada "warning" dari pemeritnah negara asing dimana mereka melarang warganya yang berlibur ke Bali minum arak sekitar tahun 2004 atau 2005 kalau tidak salah. Bisnis arak sempat kurang bagus, namun kita tetap jalan terus memproduksi arak karena kita memang membuat yang berkualitas," ujarnya,
     
    "Kualitas kita selalu utamakan dan jaga, sekarang hotel-hotel maunya yang aman, maunyanya pakai produk (arak Bali) yang sudah ada labelnya dan diketahui produksinya. Jadi arak Bali yang saat ini masuk ke hotel-hotel itu sudah bagus semua," imbuhnya.[bbn/psk]

    Penulis : putu setiawan kondra

    Editor : Putra Setiawan


    TAGS : Arak Bali Bali



    News Lainnya :


    Berita Lainnya