Hukrim

Kasus Eks Ketua Kadin Bali, Sandoz Akui Terima Uang Sebagai Jasa Konsultan

Rabu, 17 Juli 2019 | 20:25 WITA

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Sidang dugaan penipuan ijin proyek pengembangan di Pelabuhan Benoa dengan terdakwa mantan Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Bali, AA Ngurah Alit Wiraputra, kembali digulirkan di PN Denpasar, Rabu (17/7) sore.

Pilihan Redaksi

  • Hakim Vonis Eks Pegawai Karaoke Konsumsi Sabu 4,5 Tahun Penjara
  • Hakim Ganjar Pemuda Rusia Penyelundup Bayi Orangutan 1 Tahun Bui
  • Hakim Tolak Eksepsi, Eks Ketua Kadin Bali: Nanti Saya Bongkar Semua
  •  
    Saksi yang ditunggu-tunggu publik akhirnya dihadirkan oleh pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Gede Raka Arimbawa,SH di ruang sidang Tirta. Saksi Putu Pasek Sandoz Prawirottama yang merupakan putra mantan Gubernur Bali dua periode, dicerca pertanyaan oleh ketiga Majelis Hakim pimpinan IA Adnya Dewi,SH.MH.
     
    Menariknya, dalam perkara ini Sandoz membenarkan soal dirinya menerima uang yang ditepisnya sebagai upah atau jasa konsultan.
     
    "Uang itu saya terima sebagai bentuk jasa. Ya sebagai konsultasi untuk masalah pengurusan ijin perusahaan untuk pengembangan Pelabuhan Benoa," aku Sandoz di muka sidang.
     
    Hanya saja, Sandoz yang dihadirkan sebagai saksi oleh JPU Kejari Denpasar ini lebih banyak menjawab tidak tahu dan tidak ingat terkait berbagai kegiatan ataupun perjanjian-perjanjian dalam memuluskan jalannya proyek tersebut.
     
     
    Termasuk soal adanya pertemuan di rumah pribadi Mangku Pastika pada tahun 2011 sebagaimana keteterangan saksi korban, Sutrisno Lukito Disastro pada sidang sebelumnya dan sebutan Alit sebagai anak angkat Pastika.
     
    Keterangan Sandoz sendiri dikorek hakim dari mulai perkenalannya dengan terdakwa Alit. Dalam kesaksiannya, Sandoz mengatakan baru mengenal terdakwa yang mengaku sebagai anak angkat Pastika ini pada tahun 2010 silam.
     
    Lebih lanjut, dari perkenalan itulah Alit kemudian mengajak Sandoz untuk berkenalan dengan Saksi Made Jayalantara yang mengatakan jika ada investor yang mau investasi besar-besaran di Bali.
     
    Setelah itu, Sandoz kemudian diperkenalkan kepada saksi korban Sutrisno di kantor HIPMI Bali oleh Alit.
     
    "Saat pertemuan ketiga, pak Sutrisno meminta saya untuk menjadi konsultan untuk berinvestasi di Bali," kata Sandoz.
     
    Namun penunjukan sebagai konsultan itu dengan cara nonformal.
     
    "Tugas saya hanya memberi saran dan informasi," kata Sandoz menjelaskan tugasnya sebagai kosultan.
     
    Setelah menjelaskan diri sebagaimana konsultan, Sandoz mengaku tidak ingat besaran jumlahnya yang diterima sebagai jasa Konsultan. 
     
    Namun pernyataan tersebut dikatakan terdakwa hanya berkelit lantaran diakui terdakwa bahwa uang tersebut terinci jumlahnya. Terdakwa sendiri meyakinkan bahwa dirinya langsung yang menyerahkan uang itu kepada Sandoz. 
     
    "Keterangannya (Sandoz) jelas sangat menyudutkan saya," ketus Alit di luar sidang.
     
    Dalam kesaksian Sandoz, saat itu dirinya menolak namanya dimasukan dalam draf perjanjian kerjasama Pengembangan Pelabuhan Benoa. "Saya minta ke Jayalantara untuk tidak dimasukan (nama) dalam draf sebagai pihak kedua," kata Sandoz. 
     
    "Apa saudara baca draf itu?," tanya Hakim. "Tidak baca secara detil hanya bagian depannya saja, saya tidak tau apa isinya dan lupa siapa yang tanda tangan," jawab Sandoz.
     
    "Lalu apa yang membuat anda tidak terima dimasukan dal

    Pilihan Redaksi

  • Rumah Warga Seminyak Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp2 M
  • Koster Akan Merampingkan Jumlah OPD Pemprov Bali
  • Kisah Nengah Wenten, Hidup Susah Hingga Terpaksa Buang Air di Kebun
  • am draf?" tanya Hakim "Dari awal saya tegaskan memang saya tidak mau terikat," jawab Sandoz.
     
    Lalu, Hakim Adnyana mencoba membangunkan ingatan Sandoz dengan membaca keterangan BAP.
     
    "Coba dibaca BAP poin ketujuh ya, apakah saduara menerima uang dari Mega Hambara dari cek antara lain 14 maret 2012 itu sebesar Rp 500 juta, 14 maret 2012 Rp200 juta, 14 Maret lagi Rp200 juta, rincian keseluruhannya itu Rp 7,5 miliar apa benar?," tanya Hakim. 
     
    "Saya tidak ingat detailnya Bu?," jawab Sandos. "Ini keteragan saudara di Polisi, apa benar?" tanya Hakim. "Iyaa Bu," jawab Sandoz pelan.
     
    Jawaban dari Sandoz ini membuat terdakwa Alit tersenyum sinis. Pasalnya, Sandoz mengaku jika dirinya mau menerima uang sebanyak itu karena sesuai dengan perannya sebagai konsultan dan menganggap uang tersebut adalah dana dari perusahaan milik saksi korban Sutrisno. (bbn/maw/rob)

    Penulis : Made Ari Wirasdipta

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Sandoz Kasus Eks Ketua Kadin Bali



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV