Hukrim

Soal Konflik di Sky Garden, Ini Penjelasan Pihak Dewan Komisaris

Kamis, 15 Agustus 2019 | 18:20 WITA

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Dewan Komisaris Sky Garden atau PT ESC Urban Food Station, Anak Agung Ngurah Agung, membantah adanya kasus penganiayaan, pengambilan uang Rp 180 juta dan penganiayaan staff diskotik Sky Garden. Menurutnya, ada segelintir orang yang sengaja memperkeruh suasana agar situasi Sky Garden tidak kondusif.

Pilihan Redaksi

 
Menurutnya, sebenarnya Titian Wilaras selaku owner mayoritas 66 persen adalah saksi pelapor, dalam kasus pencurian uang sebesar Rp 300 juta. Bahkan, kasus ini sudah dilaporkan ke Polsek (nomor TPL/196/VIII/2019/Bali/RestaDPS/SekKuta).
 
Dijelaskannya, kasus ini terjadi 7 Agustus 2019 sekitar pukul 22.00 Wita di ruangan kasir Sky Garden. Saat kasir memasukkan uang ke dalam kantong plastik, tiba–tiba datang seorang pria tak dikenal merampas uang tersebut dan kabur.
 
“Kejadian ini direkam CCTV. Titian Wilaras sebagai pelapor pencurian uang sebesar Rp 300 juta. Kemudian dibangun opini di media bahwa orang Titian Wilaras yang mengambil uang. Ini aneh, untuk seorang pemilik 66 persen, merampas usahanya sendiri. Pamela Wilaras adalah anak dari Titian Wilaras,” imbuhnya.
 
Terkait penodongan pistol kepada Suwarno, menurut Agung Ngurah adalah fitnah semata dan pembunuhan karakter. Selain itu, kasus penganiayaan yang dituduhkan ke Markus Karel Senen yang disebut-sebut pentolan ormas “Satu Darah” dari Belanda, juga tidaklah benar. Apalagi penganiayaan terhadap dua staff Sadewa dan Stave hingga babak belur dan gigi rontok.
 
Menurutnya kasus ini berawal ada pihak yang sengaja memancing, hingga akhirnya Markus menampar, bukan menganiaya sampai gigi rontok. 
 
“Menampar, karena malah ada pihak yang sengaja memancing, hingga Markus sempat emosi,” urai Agung Ngurah yang juga seorang pengacara ini.
 
Agung mengatakan, Markus saat ini mengalami stroke dan sempat mengalami pecah pembuluh darah di kepala, lima kali. 
 
“Catatan medis jelas ada, Markus itu stroke sangat tidak mungkin bisa menganiaya seperti yang diberitakan,” sambungnya.
 
Sebelumnya diberitakan, merasa dirinya terancam dari aksi kekerasan yang dilakukan sekelompok preman teroganisir diduga suruhan Tititan Wilaras, Direktur PT ESC Urban Food Station bisnis night club Sky Garden, Drs. H. Suwarno, MBA, bersurat ke Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose untuk minta perlindungan hukum.
 
Surat permohonan itu dikirim ke Kapolda Bali, pada Senin (12/8) pukul 12.54 Wita. Pensiunan Brigadir Jenderal Polisi itu juga bersurat ke Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Hal ini dilakukan Suwarno mengingat pelaku merupakan pentolan ormas, Markus Karel Senen, “dilepas” Polsek Kuta karena terserang stroke di rumah sakit. “Saya sudah bersurat ke Kapolda Bali untuk minta perlindungan hukum,” terang Suwarno, Kamis (15/8/2019).
 
Suwarno menuturkan, ancaman terhadap dirinya terjadi di restoran Sky Garden Lantai II, pada Kamis (8/8) sekitar pukul 19.30 Wita lalu. Dimana Suwarno dituding mencuri uang hasil penjualan harian sebesar Rp 180 juta oleh terlapor Titian Wilaras. Padahal, kata Suwarno, uang tersebut sebelumnya sudah disimpan di brankas Sky Garden pada Kamis (8/8/2019) sekitar pukul 03.00 dinihari oleh Supervisor kasus, Fredie Ian Domingo (23).
 
Selain itu, dirinya juga diancam Markus yang datang ke Sky Garden bersama 20 anak buahnya. Para pelaku mengancam akan menembak dan melubangi kepalanya. Tak hanya itu, para pelaku  merampas handphone dan memaksa minta KTP korban, hingga membuka serves brankas untuk mengambil uang Rp 180 juta yang dimasukkan ke dalam plastik kresek putih.
 
Terkait hal ini, Kuasa Hukum Suwarno, HM Rifan, SH, MH, CLA merinci ancaman pidana yang kemungkinan besar menjerat para terlapor. Pertama, perbuatan yang dilakukan terlapor Titian Wilaras, Braga Wilaras, Pamela Wilaras, dan Anne diduga kuat melanggar Pasal 335 KUHP junto Pasal 55 KUHP junto Pasal 311 Ayat (1) KUHP junto Pasal 310 Ayat (1) KUHP. Terkait bersama-sama melawan hukum dengan menyuruh orang melakukan sesuatu dengan kekerasan dan atau ancaman kekerasan serta memfitnah untuk mengambil keuntungan diri sendiri atau orang lain.
 
Kedua, terlapor terancam Pasal 53 KUHP junto Pasal 170 KUHP junto Pasal 55 KUHP karena menyuruh dan membiarkan terlapor Markus, dkk., menganiaya korban Sadewa dan Steve. Penganiayaan itu terekam CCTV di TKP.
 
Ketiga,  Titian Wilaras, Braga Wilaras, Pamela Wilaras, dan Anne tidak dibenarkan mengambil paksa uang Sky Garden meski status mereka adalah pemegang saham. Tindakan itu melampaui wewenang karena uang tersebut tidak berbentuk deviden. Berdasarkan hukum, terlapor diduga kuat bersama-sama melakukan tindakan pidana sesuai Pasal 368 Ayat (1) KUHP.
 
Sementara itu, menanggapi bersuratnya Suwarno untuk minta perlindungan hukum ke Kapolda Bali, Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Bali, Kombes Pol Andi Farian belum memberikan komentar. Perwira melati tiga dipundak itu mengaku belum membaca surat permohonan Suwarno. “Saya masih di Jakarta. Rapat. Suratnya belum saya terima,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu (14/8/2019) siang.[bbn/spy]

Penulis : Surya Kelana

Editor :


TAGS : Sky Garden Kuta Bali



News Lainnya :


Berita Lainnya

Trending News

Berita Bali TV