News

127 Jenis Tarian Masuk Daftar Tari Sakral Bali yang Dilindungi

Selasa, 17 September 2019 | 15:00 WITA

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Dalam kesepakatan yang dibacakan oleh Kadis kebudayaan Provinsi Bali I Wayan ‘Kun’ Adnyana, disebutkan bahwa dalam upaya Penguatan dan Perlindungan Kebudayaan Bali sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui Pola Pembangunan Semesta, menuju Bali Era Baru, maka dibuat Keputusan Bersama tentang Penguatan dan Perlindungan Tari Sakral Bali.

Pilihan Redaksi

  • Koster: Tari Sakral Tidak Boleh Dipentaskan untuk Komersialisasi Seperti Rekor MURI
  • Putri Koster Harap Lomba Tari Yosakoi Tingkatkan Akulturasi Budaya Bali-Jepang
  • Siswa Papua Tampilkan Tari Yospan Pawai Budaya Jembrana 2019
  •  
    Kesepakatan Bersama tersebut ditandatangani oleh Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana  M.Si, Bendesa Agung Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, Ketua Umum Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (LISTIBIYA) Provinsi Bali Prof. Dr. I Made Bandem, MA, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn, dan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum., serta disaksikan oleh Gubernur Bali Wayan Koster dan Sekretari Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra. 
     
    Adapun Jenis tari yang dimaksud antara lain: Tari Rejang, Tari Sanghyang, Tari Baris Gede, Wayang Lemah, Topeng Sidakarya dan lain-lain dengan total 127 jenis tarian. “ Namun tidak menutup kemungkinan bisa bertambah lagi, dengan melihat aspirasi dan usulan masyarakat,” ujar Adnyana.
     
    Di kesempatan tersebut juga, Budayawan Prof Dr Made Bandem menyebut pendataan tarian sakral yang disusun tersebut berdasarkan kepada rumusan di tahun 1971 dengan klasifikasi bertajuk ‘Wali, Bebali dan Bali-Balihan’  yang diartikan sebagai wali (sakral) atau bebali (upacara) dan balih-balihan (hiburan). 
     
    “Tari wali dan bebali dapat ditarikan di tempat dan waktu tertentu. Tari wali dipentaskan di halaman bagian dalam pura dan tari bebali di halaman tengah (jaba tengah, red) jadi dapat dikategorikan sebagai tarian sakr

    Pilihan Redaksi

  • Koster: Tari Sakral Tidak Boleh Dipentaskan untuk Komersialisasi Seperti Rekor MURI
  • Hakim Vonis Wahyudi 8 Tahun Penjara Karena Ambil Tempelan 5 Paket Sabu
  • Guru Harus Manfaatkan E-Literasi untuk Mencari Informasi
  • al. Sebaliknya tari balih-balihan ditarikan di halaman luar pura (jaba sisi, red) dalam acara yang bersifat hiburan lebih ditekankan kepada sisi artistiknya dan bisa dipentaskan di tempat lain, untuk pariwisata dan lainnya,” ujar Prof Bandem. 
     
    Dilanjutkan Prof Bandem, dalam data mutakhir yang disusun pada tahun 1992 oleh Listibya dimana terdaftar 6.512 kelompok seni di Bali yang 70 persen diantaranya mengusung tari kategori wali dan bebali.  "Perkembangan seni yang begitu pesat di Bali dan pada tahun 2015 kita menemukan 10.049 sekaa di Bali dan tetap sebagian besar pada wilayah tari wali dan bebali. Ini dasarnya sehingga perlu diproteksi lebih jauh lagi. Apalagi kita ketahui tari-tarian sakral ini adalah sumber dari seni tari di Bali,” tambahnya.
     
    Proteksi ini, menurut Prof Bandem, juga memiliki acuan kepada usulan agar istilah ‘Wali, Bebali dan Bali-Balihan’ ini dienskripsi oleh UNESCO sehingga wajib adanya untuk dilestarikan dan dijaga lebih kuat terhadap perubahan-perubahan zaman. (bbn/rls/rob)

    Penulis : Rilis Pers

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Gubernur Bali Tari Sakral Koster Bali Kadis Kebudayaan



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV