Ekbis

Pembuat Arak Tradisional di Karangasem Terancam Punah

Sabtu, 05 Oktober 2019 | 08:15 WITA

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, KARANGASEM.
Menjadi seorang pembuat arak tradisional nampaknya kurang diminati para generasi milenial khususnya yang tinggal di wilayah–wilayah penghasil tuak sebagai bahan baku arak itu sendiri.

Pilihan Redaksi

  • Pembuat Arak Sambut Baik Wacana Legalisasi Arak Bali
  • Pengrajin Arak Tradisional di Sidemen Diwariskan Turun-Temurun
  • Depresi Masalah Ekonomi, Agus Minum Arak Campur "Bayclin"
  • Kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak terhadap jumlah penmbuat arak tradisional. Apabila tidak dilestarikan sejak dini maka bisa dipastikan sedikit demi sedikit petani tuak sekaligus pembuat arak tradisional lambat laun pasti akan terus berkurang keberadaannya.
    Saat ini saja, yang masih menekuni sebagai pembuat arak dan penyadap tuak adalah mereka yang rata-rata telah berusia di atas 35 tahun. Kendati masih ada beberapa anak muda yang mau meneruskan usaha kerajinan arak dan penyadap tuak namun jumlahnya sangatlah sedikit karena kebanyakan dari mereka memilih untuk merantau bekerja di daerah Denpasar.
    “Anak–anak sekarang lebih memilih merantau mencari pekerjaan di Denpasar, lama–lama bisa punah pembuat arak tradisional,” kata Ketut Togog (50) salah seorang Petani penyadap tuak sekaligus Pembuat Arak tradisional asal Sidemen, Karangasem.
    Menjadi seorang penyadap tuak sekaligus pembuat arak tradisional sudah dijalankannya secara turun - temurun yang diwarisi oleh almarhum ayahnya. Dari sisi ekonomi harga arak tradisional ini untuk satu liternya dihargai dengan harga Rp. 60 ribu untuk kualitas kelas satunya. Sementara Rp. 30 ribu untuk arak dengan kualitas kelas dua.
    Dalam sekali proses penyulingan secara tradisional, Togog memasak sekitar 120 liter tuak kelapa. Prosesnya pun tidaklah terlalu lama hanya hitungan jam saja sudah bisa menghasilkan arak. Dari 120 liter tuak Togog bisa menghasilkan 15 liter arak. Sebanyak 10 liter arak dengan kualitas kelas 1 dan 5 liter arak kualitas kelas 2. 
    Hanya saja, untuk mendapatkan tuak hingga 120 liter perlu waktu untuk mengumpulkannya. Togog sendiri setiap harinya hanya berhasil mengumpulkan rata – rata sebanyak 25 liter tuak dari 25 pohon kelapa yang ia sadap. 
    Aktivitas menyadap tuak dan pembuat arak tradisional bisa dikatakan sebagai mata pencaharian utama bagi ketut Togog untuk menghidupi lima orang anaknya. Dirinya berharap dengan adanya wacana dilegalkannya arak tradisional ini bisa menumbuhkan minat generasi muda sehingga keberadaan pengerajin arak tradisional tidak menjadi punah.

    Penulis : bbn/igs

    Editor : Admin


    TAGS : Pembuat Arak Tradisional Terancam Punah



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV