Ekbis

Pengrajin Arak Tradisional di Sidemen Diwariskan Turun-Temurun

Rabu, 02 Oktober 2019 | 11:00 WITA

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, KARANGASEM.
Menjadi seorang petani penyadap tuak sekaligus pengrajin arak tradisional adalah satu satunya mata pencaharian yang selama ini menghidupi keluarga I Ketut Togog (50) asal Banjar Undisan, Desa Lantang Katik, Sidemen, Karangasem.

Pilihan Redaksi

  • Penyertaan Modal Karangasem di Jamkrida Capai Rp.446 Miliar
  • Depresi Masalah Ekonomi, Agus Minum Arak Campur "Bayclin"
  • Kerap Digrebek, Petani Arak Tradisional Ngadu ke Dewan Karangasem
  • Bukan hanya sekedar pencaharian, aktivitas membuat arak traditional ini bahkan sudah menjadi usaha yang diwariskan secara turun temurun oleh pendahulunya. "Saya melanjutkan usaha dari almarhum ayah saya, ini bisa dibilang usaha turun temurun," kata Pria yang memiliki lima orang anak ini ketika dikunjungi di tempat pembuatan araknya pada Selasa (01/10/2019).
    Dalam prosesnya, untuk mendapat bahan baku utama pembuatan arak yaitu tuak, setiap hari Ketut Togog harus memanjat sebanyak 25 pohon kelapa yang ia disadap. Dari satu pohon kelapa yang disadap menghasilkan satu liter tuak dalam waktu satu hari satu malam.
    Tuak hasil sadapan biasanya diambil setiap pagi dengan cara menaiki pohon kelapa satu per satu sembari membawa sebuah wadah dan senjata menyerupai parang untuk membersihkan bagian kelapa yang disadap. Dalam sekali ambil, Togog bisa mengumpulkan tuak sebanyak 25 liter. Tuak hasil sadapannya inilah yang akan diolah sebagai bahan baku utama pembuatan arak. 
    Setelah terkumpul, tuak tersebut kemudian dituang ke dalam drum yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar saat proses pemasakannya tidak bocor. 
    Tuak yang sudah dituang ke dalam drum kemudian dimasak di atas tungku dengan menggunakan api yang tidak terlalu besar. Di bagian atas drum terdapat dua buah pipa dengan panjang sekitar 4 meteran yang terhubung langsung dengan gentong air sebagai pendinginnya. Setelah dimasak selama beberapa jam, uap yang dihasilkan kemudian mengalir melalui pipa tersebut menuju ke pendingin sebelum akhirnya menetes dari lubang pipa. Tetesan inilah yang disebut dengan arak. Untuk satu botol arak tete

    Pilihan Redaksi

  • Pangdam Perkenalkan Serka Dewa Gede Astawa Pelari Naik Turun Gunung
  • Golkar Karangasem Jaring Bakal Calon Pilkada 2020 Usai Munas
  • Komplotan Maling Bobol SD 3 Kerobokan Kaja, Curi Uang Tabungan Siswa dan Laptop
  • san pertama warga setempat menyebutnya "Arak Laingan".
    "Arak Laingan" memiliki sejumlah manfaat, salah satunya banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan terapi oleh sejumlah teraphis. Setelah satu botol pertama, barulah keluar arak kelas Satu dengan kadar alkohol hingga di atas 30 persen.
    Untuk perbandingannya, 120 liter tuak yang dimasak bisa hasilkan sebanyak 15 liter arak, 5 liter diantaranya adalah arak dengan kualitas nomor dua sedangkan 10 botol sisanya adalah arak dengan kadar alkohol kelas satu. Selama ini, Arak - arak yang dihasilkannya dijual kepada salah seorang pembeli yang sudah menjadi langganan Ketut Togog dengan harga Rp.30 ribu per botol untuk kelas satunya. Sementara untuk kelas dua dijual dengan harga Rp.20 ribu di lingkungan tempat tinggal Ketut Togog, memang hampir seluruh warga memiliki peralatan untuk menyuling tuak. Bahkan satu kepala keluarga memiliki satu tempat penyulingan. (bbn/igs/rob)

    Penulis : bbn/igs

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Pengrajin Arak Sidemen Karangasem Turun Temurun



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV