News

Mahasiswa Akan Lancarkan Aksi Demo Desak Gubernur Bali Tutup SGB

Minggu, 17 November 2019 | 16:00 WITA

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Pande Made Widia, Ketua Forum Peduli Komoditi Berjangka yang anggotanya Mahasiswa akan melancarkan aksi demo untuk mendesak Gubernur Bali menindaklanjuti rekomendasi DPRD untuk segera menutup PT Solid Gold Berjangka (SGB).  

Pilihan Redaksi

  • Total Kerugian Korban SGB Rp60 M, Ketua Forum Korban: Tuntut Hak Kok Dipersulit
  • Akhiri Rangkaian HUT ke-69, IDI Cabang Jembrana Gelar Family Gathering
  • Motivator Muda Bakar Semangat ASN Pemprov Bali Jadi Agen Perubahan
  • "Setelah surat rekomendasi dari DPRD provinsi tidak digubris Gubernur, kami rencananya melancarkan aksi agar gubernur segera menutup PT SGB, sebelum timbul korban lainnya," ujarnya saat saat acara pembukaan data korban dan seminar motivasi untuk korban yang diadakan Forum Peduli Korban Komoditi Berjangka, Minggu (17/11/2019) di Denpasar.     
    Ia mencatat dari total kerugian korban yang terdata sebesar RP31 miliar dan perkiraan yang belum terdatat sekitar Rp30 miliar. Kerugian yang paling banyak berasal dari kabupaten Buleleng, Badung, Denpasar, Gianyar dimana rata-rata per kabupaten besarannya mencapai Rp9 miliar.
    Pande menyebut setelah pegaduan ke Bapepti disetor ke DPRD Bali, pihaknya akan menyiapkan aksi orasi. 
    "Kami lakukan ini untuk Bali karena selain banyak jumlah kerugian juga lembaga bank tersendat, kalo ngga bergerak gimana, kita dijajah loh di daerah kita sendiri," tegasnya.
    Sementara itu, alah satu mantan Marketing SGB, Raudatul Janah ikut mendukung upaya korban menuntut haknya dan berharap gubernur Bali menandatangani rekomendasi yang diberikan DPRD Bali untuk menutup SGB.
    lebih jauh ia mengaku selama menjadi marketing SGB dilatih 3 hari untuk mencari nasabah atau klien dan tidak digaji hanya menerma komisi dari perolehan klien. Setelah dikonfirmasi bersama aktivis, ia menyatakan bahwa selama menjadi marketing status yang dianggap oleh perusahaan adalah menjalani pelatihan bukan sebagai tenaga kerja.
    "Tetapi bagaimana logikanya adalah ketika tenaga pelatihan dimanfaatkan untuk mencari konsumen yang menyetor dananya hingga miliaran untuk keuntungan perusahaan tidak dianggap sebagai karyawan," kesalnya.  

    Penulis : I Komang Robby Patria

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Mahasiswa Demo Desak Gubernur Tutp SGB



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV