Ratusan Babi di Bali Mati Karena "Penyakit Baru Yang Ganas" - Beritabali.com

News

Ratusan Babi di Bali Mati Karena "Penyakit Baru Yang Ganas"

Rabu, 29 Januari 2020 | 07:45 WITA

beritabali.com/ilustrasi/net

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Ratusan ekor ternak babi di Bali dilaporkan mati akibat terserang penyakit yang hingga kini masih disebut sebagai "penyakit baru". "Penyakit Baru" yang kini tengah diteliti ini terbukti ganas karena telah membuat ratusan babi mati dalam waktu singkat.
BACA JUGA: Babi Mati Tembus 888 Ekor, Distan Bali: Kami Belum Tahu Sebab Pastinya
Kasus kematian ternak babi antara lain terjadi beberapa daerah di Badung. Masyarakat di Badung khususnya peternak diminta untuk menerapkan bio sekuriti secara ketat. 
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung I Wayan Wijana mengatakan hal tersebut usai mengadakan pertemuan dengan peternak babi sekaligus mengunjungi peternak di Kecamatan Abiansemal, Kamis (23/1).
Menurut Wijana yang didampingi Kabid Keswan Provinsi Bali, Kepala Balai Karantina dan Camat Abiansemal, sejak adanya laporan kematian babi awal Januari lalu, pihaknya sudah menurunkan petugas untuk melakukan pemantauan dan pendataan sekaligus melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE).  Ini dilakukan oleh petugas kepada masyarakat khususnya peternak tentang bahaya penyakit babi yang sedang berjangkit serta cara-cara untuk mencegah  meluasnya penyebaran penyakit.
BACA JUGA: 20 Babi Mati Mendadak di Desa Cau Belayu, Distan Tabanan Ambil Contoh Darah
"Mengingat sampai saat ini hasil laboratorium atas sampel yang dikirim ke BB Vet Denpasar masih harus dikonfirmasi ke BB Vet Medan yang punya kewenangan menentukan jenis penyakit ini, maka kami himbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak resah karena penyakit ini tidak menular kepada manusia namun penyebarannya sangat cepat kepada ternak babi," kata Wijana.
Menurut mantan Camat Kuta Selatan ini, satu-satunya cara untuk mencegah meluasnya penyebaran wabah ini adalah peternak diminta untuk menerapkan bio sekuriti dengan serius yakni dengan menjaga kebersihan kandang, melakukan spraying dengan disinfektan, membatasi dengan ketat lalu lintas orang, barang,bahan dan hewan yang mudah terkontaminasi virus ke dalam kandang termasuk dihimbau tidak menggunakan pakan bekas limbah hotel atau restoran karena diduga menjadi pemicu munculnya wabah ini serta memusnahkan babi yang sudah mati dengan cara dibakar atau dikubur.
Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali mencatat dalam kurun waktu Desember 2019 hingga Januari 2020 terdapat 600 ekor lebih babi yang mati dengan gejala yang sama. Kabupaten Badung menjadi wilayah yang tertinggi dengan angka mencapai 564 kasus kematian. Kemudian disusul Denpasar dengan 14 kematian, Gianyar 17 kematian, dan Tabanan 11 ekor kematian. 
Menurut Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Nata Kesuma, kematian ratusan ternak babi di Bali membuat masyarakat resah karena berdampak pada kerugian ekonomi dan psikologis. 
Ratusan babi yang mati menunjukkan gejala klinis yang sama yakni demam tinggi, kulit kemerahan pada daun telinga dan bagian tubuh lainnya, muntah, diare dan diakhiri dengan kematian. Untuk mencari sebab kematian ratusan ekor babi ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali telah mengambil sample penelitian di beberapa lokasi untuk diteliti di laboratorium. Uji laboratorium ini untuk memastikan apakah ratusan ekor babi yang mati ini disebabkan oleh Flu Babi Afrika (ASF) atau sebab lainnya. 
BACA JUGA: Penyakit Misterius Babi, Biosekuriti Ketat Harus Diterapkan
Pemerhati dan peneliti kesehatan hewan, GN Mahardika menyatakan,  melihat pola kematian tinggi babi yang menyebar di beberapa kabupaten, ia memastikan ini merupakan penyakit baru. Melihat pola kematian, penyakitnya yang menyerang babi ini tergolong ganas. Menurut Mahardika, biosekuriti ketat wajib dilaksanakan untuk wilayah dan kandang yang belum kena. 
Tindakan wajib dari pemerintah adalah penutupan wilayah atau kabupaten atau kecamatan atau desa. Babi hanya boleh beredar di wilayah itu. Sumber penularan antar wilayah dan antar kandang adalah transportasi babi, alat angkut, dan orang (pedagang, representatif perusahaan obat dan pakan, tukang tangkap, petugas kesehatan). 
Ia menyarankan agar babi yang mati jangan dikonsumsi. Babi yang sakit dan yang kontak jangan dipotong, sebab itu membuat harga daging babi terjun bebas. Hal  itu juga membuat penyakit ini semakin tak terkendali. 
BACA JUGA: Angka Kematian Capai 700 Ekor, Kadis: Daging Babi Masih Aman Dikonsumsi
Melihat pola penyebaran babi yang mati, tindakan laporan dini dan tindakan segera sudah sangat terlambat bagi daerah/desa tertular. Bagi daerah/desa belum tertular, diminta untuk lakukan deteksi dini dan tindakan segera.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali sebelumnya telah memetakan sebanyak 25 titik peternakan di Pulau Dewata yang berisiko tinggi terkena ancaman penularan virus demam babi Afrika (African Swine Fever/ASF). Jumlah ternak babi di daerah yang berisiko tinggi itu mencapai 10.002 ekor, dengan jumlah peternak 309 orang.  Sementara jumlah total populasi babi di Bali mencapai 890 ribu ekor.

Penulis : Litbang Beritabalicom

Editor : Putra Setiawan


TAGS : Babi Badung Bali


Bali Tour Company | Bali Day Tours Packages | Bali Tours Activities

Best online Bali Tour Company Service for your holiday in Bali Islands by offer special Bali Day Tours Packages, Bali Activities Tour with Professional Bali Tours. Contact us Today 082340081861



News Lainnya :


Berita Lainnya

Trending News

Berita Bali TV